OPINI

Korelasi antara Strategi dengan Faktor Emosional

MAKLUMATNEWS.com, Palembang –Kalau kita kelompokkan judul artikel di atas maka yang akan dianalisis, berawal dari beberapa pertanyaan lanjutan yaitu;

Pertama strategi apa yang dimaksudkan  Kedua, istilah emosional itu sendiri; Ketiga, apa sasaran akhir dari masalah yang akan dibahas.

Pertama, masalah strategi. Strategi minimal mempunyai arti dan makna 4 macam.

Kita ambil saja satu yang mendekati yaitu strategi dimaknai sebagai rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus ( KBBI, halaman 859).

Sedangkan arti dan makna; emosional berasal dari kata emosi, bermakna luapan perasaan yang berkembang, keadaan reaksi psikologis dan filosofis ( kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian yang bersifat subyektif ( idem, hal. 228).

Emosional menyentuh perasaan; mengharukan.

Jadi judul di atas singkat nya bermakna adalah suatu rencana khusus untuk menarik pemikiran seseorang melalui hubungan psikologis.

Konteks yang akan kita analisis sejauh mana secara kualitatif hubungan Pilkada dengan cara psikologis dapat menjaring suara di dalam persaingan pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah ( provinsi, kabupaten dan kota).

Biasanya hubungan emosional terjalin karena beberapa faktor yang ada kesamaan di antara mereka yang dapat kita sebut kan misalnya faktor teritorial ( asal daerah.

Kalau kita Sumatera Selatan istilah nya berasal dari satu dusun (sedusun), atau faktor genealogis ( faktor persaudaraan karena masih satu keturunan satu phuyang).

Faktor faktor di atas menurut Prof. Djojodiguno SH, guru besar Hukum Adat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta disebut atau masih tingkat GUYUB ( bukan karena faktor materi).

Tentu di samping faktor Guyub ada faktor lain yang memiliki sifat materi semua diukur dengan jasa dibalas jasa, misalnya komunitas sekerja, separtai dan lain sebagainya.

BACA JUGA  Menguak Gangster India (5) Opini : ‘Pembunuhan Paling Keji’ dan Mengerikan terhadap Wanita 

Kita ambil contoh dalam Pilkada di Sumatera Selatan; di sini tumbuh dan berkembang etnis etnis dari beberapa faktor teritorial dan genealogis; kita globalisasi saja menggunakan aliran sungai yang ada di Sumatera Selatan yang terkenal istilah sungai (sungai Batang hari Sembilan – sembilan anak sungai yang bermuara ke sungai Musi).

Sepanjang aliran sungai tadi (sembilan anak sungai) itu pada umumnya dihuni atau tumbuh dan berkembang suatu etnis ( suku) yang masing-masing mempunyai phuyang asal.

Kenapa sungai yang menjadi tolok ukur nya, karena sungai awalnya menjadi pusat kehidupan yang umumnya menjanjikan untuk dihuni oleh manusia.

Mungkin juga sebagai catatan sejarah tidak kalah penting nya kita ketahui generasi yang akan datang bahwa di Sumatera Selatan pernah sebagai ikatan suatu suku ( etnis) berdasar apa yang disebut MARGA.

Perkembangan Marga berawal nya terbentuk akibat faktor genealogis seperti di Tapanuli Sumatera Utara.

Tapi dampak kepentingan politik dan perkembangan masyarakat itu sendiri; Marga menjadi ikatan Teritorial.

(Dalam istilah ilmu hukum adat disebut Serikat Desa atau di kita disebut Serikat Dusun ( himpunan dusun dusun ; Marga).

Menurut buku Prof. H. Amrah Muslimin, SH, guru besar Hukum Administrasi Negara Universitas Sriwijaya dalam bukunya Perkembangan Marga dan Dusun , ; MARGA berjumlah 188.

Tentu dalam menentukan strategi untuk menjaring suara dalam pemilu dan Pilkada itu sangat menentukan sebagai faktor emosional, untuk memberikan suara pemilih kepada calon yang mau dan akan bersaing dalam pemilu dan atau Pilkada.

Contoh etnis besar yang mendiami sepanjang sungai kumoring yang terbentang dari Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu pusat sampai perbatasan Ogan Komering Ilir (dusun Gunung Batu) adalah suku kumoring yang cukup untuk dilirik dengan berbagai strategi.

BACA JUGA  Amal tidak Diterima 

 

Oleh : Albar Sentosa Subari, Dosen Purna bakti FH Unsri dan Ketua Pembina Adat Sumsel

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button