CAHAYA RAMADAN

Cinta Tuhan dan Cinta Kemanusiaan

MAKLUMATNEWS.com, Palembang — Ramadan didesain sebagai bulan penuh cinta: cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan. Dalam Ramadan, mukmin merespons panggilan iman (ya ayyuha al-ladzina amanu…) sekaligus membuktikan cintanya kepada Tuhan dengan mengoptimalkan ketaatan dalam beribadah, baik yang wajib maupun yang sunah, dengan penuh keikhlasan dan ketekunan.

Cinta kemanusiaan dibuktikan dengan meningkatkan kesalehan sosial, seperti sedekah, menyantuni fakir miskin, memberi ifthar (buka puasa), membayar zakat fitrah, meneguhkan ukhuwah, menggelorakan spirit berjamaah di masjid, dan mempererat silaturahim dengan sesama.

Cinta Tuhan dan kemanusiaan merupakan aktualisasi tujuan puasa Ramadan, menjadi hamba bertakwa.

Sepanjang tahun, seseorang boleh jadi terjebak dalam rutinitas dan berada dalam zona nyaman sehingga melupakan jati dirinya sebagai makhluk yang perlu “general check up”: fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial.

Berpuasa Ramadan itu belajar mengelola diri, menahan hawa nafsu, dan melawan godaan setan dalam rangka melejitkan dan meneladani sifat-sifat ketuhanan.

Esensi ibadah Ramadan adalah penyadaran diri terhadap pentingnya merawat diri, mengelola emosi, dan meningkatkan iman dan imun tubuh, agar tetap fresh, sehat, dan memiliki kebugaran fisik, mental, spiritual, dan sosial.

Karena itu, puasa Ramadan menyadarkan kembali pentingnya memahami hak-hak fisik, kebutuhan psikis, dan spiritualitas diri.

Sebagai ibadah yang sudah mentradisi dalam sejarah, puasa tidak hanya berfungsi sebagai peremajaan sel-sel dan fungsi-fungsi tubuh yang terkadang mengalami degradasi medis dan fisiologis, tetapi juga berfungsi sebagai rehumanisasi posisi, tugas, peran, dan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

Puasa mengedukasi para shaimin dan shaimat untuk menerima dan mengaktualisasikan kasih sayang Allah terhadap mereka. Kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya luar biasa besar.

Kasih sayang Allah itu tecermin dalam “kurikulum Ramadan” yang berisi kedamaian, kenikmatan, keberkahan, kemaslahatan, dan kemanusiaan hamba. Kurikulum Ramadan sebagai rahmat Allah itu dilimpahkan melalui aneka bentuk dan momentum.

Misalnya, bangun pagi lebih awal di waktu sahur, santap sahur, shalat Subuh berjamaah, menjalani puasa, mengelola hawa nafsu, shalat Dhuha, memperbanyak sedekah, menanti momen indah berbuka, shalat tarawih, bertadarus Alquran.

BACA JUGA  Berburu Parcel Lebaran Mulai Rp 65.000 di Glenda Gallery Bukit Besar, Porselen Pecah Belah Hingga Kue Kering

Puasa Ramadan bukan sekadar formalitas, ritualitas, dan rutinitas “menahan lapar, haus, dan tak berhubungan suami istri pada siang hari”.

Sebab, jika puasa itu sebatas puasa “perut dan di bawah perut”, puasa demikian hanyalah puasa fisik atau dalam terminologi Imam al-Ghazali, shaum al-‘awam, puasa kelas ekonomi, puasa orang awam.

Puasa level ini miskin nilai dan boleh jadi gagal tujuan, tidak meningkatkan kualitas takwa, tidak berimplikasi positif terhadap pembentukan karakter positif dan akhlak mulia.

Karena itu, puasa Ramadan harus dimaknai dan dikerjakan secara totalitas, puasa jiwa dan raga, puasa substantif, puasa lahir batin sebagaimana memohon maaf lahir batin.

Puasa lahir batin sejatinya bermuara pada rejuvinasi, peremajaan fungsi-fungsi organ tubuh, sehingga setelah “lulus” madrasah Ramadan shaimin dan shaimat menjadi lebih sehat, bugar, memahami hak tubuh, lebih peduli kesehatan jasmani dan rohani, kesehatan fisik, mental spiritual, lingkungan, dan sosial.

Selain itu, puasa Ramadan idealnya membuahkan rehumanisasi, pemanusiaan kembali, memahami fitrah kemanusiaannya, setelah terkungkung dalam rutinitas dan formalitas kehidupan yang kurang manusiawi.

Misalnya saja, seseorang menjadi semacam “robot” birokrasi, mesin pencari uang, dan tersandera rutinitasnya. Puasa yang humanis itu bersifat liberatif, membebaskan manusia dari segala bentuk “penjajahan hawa nafsu” dan egoisitas diri yang membelenggu.

Puasa yang liberatif idealnya memerdekakan shaimin dan shaimat menjadi momentum pencerahan hati dan pikiran untuk tidak terjebak dalam penjara materi dan orientasi duniawi.

Puasa bermakna harus menjadi terapi penyakit rakus, egoisme, watak korup, dan antisosial. Dengan kata lain, ibadah Ramadan itu harus mencerahkan. Puasa Ramadan dimaknai dan dipahami sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah.

Ramadan didesain untuk membebaskan hamba dari kekerdilan konsep diri dari orientasi duniawi, menuju pemuliaan diri dengan menjadi manusia merdeka yang mencintai Allah dan sesamanya.

BACA JUGA  Merenungi Jalan yang Akan Dilalui

Harapan menjadi hamba bertakwa itu merupakan proses becoming (menjadi), yang tidak mungkin diwujudkan secara instan. Berpuasa selama sebulan itu edukasi transendensi menujuk kedekatan hamba kepada Allah dan sesama.

Transendensi puasa meneguhkan iman, menguatkan semangat beribadah, dan melejitkan spiritualitas konstruktif: membangun keimanan, keilmuan, dan kepribadian mulia. Ramadan itu unik dan spesifik.

Sebab, puasa Ramadan bernilai multidimensi: dimensi fisik, finansial, mental, intelektual, spiritual, sosial, dan moral. Puasa juga ibadah universal, lintas agama dan budaya, lintas masa dan generasi, diakui kebaikan dan kebermanfaatannya bagi manusia.

Puasa bukan hanya kewajiban agama, melainkan juga menjadi kebutuhan hidup manusia, sebagaimana kebutuhan makan, minum, istirahat, olahraga, tidur, dan sebagainya.

Dalam kitab Rasail an-Nur, Said Nursi menegaskan, makhluk yang paling membutuhkan berbagai jenis rezeki adalah manusia.

Allah SWT mendesain manusia sedemikian rupa, sehingga membutuhkan berbagai jenis rezeki materi dan maknawi dalam bentuk tak terhingga.

Karena itu, jika hawa nafsu tidak dikendalikan, manusia tidak akan pernah merasa cukup dan puas. Madrasah Ramadan mencerahkan jiwa dengan terus belajar menjadi hamba yang cerdas bersyukur.

Puasa melejitkan kecerdasan emosional dan spiritual untuk menjadi pribadi bahagia yang qanaah. Ramadan mengedukasi diri kita untuk menjadi hamba yang taat dan disiplin mengikuti “tasbih kehidupan”, ritme kasih sayang Ilahi, dan orientasi humanisasi.

Karena itu, ayat tentang ibadah puasa dikontekstualisasikan dengan, pertama tujuan puasa menjadi hamba bertakwa. Kedua, orientasi kebajikan berbasis ilmu. Ketiga, harapan menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Keempat, harapan menjadi orang yang mendapat petunjuk, dan kelima, harapan menjadi orang yang takut dan mendekatkan diri kepada Allah (QS al-Baqarah [2]: 183-186).

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan suci Ramadhan 1444 H. Semoga kita semua sukses melaksanakan ibadah Ramadan yang membahagiakan dan mencerahkan: berbasis iman dan ilmu, membuahkan akhlak mulia dan kepribadian takwa. (*/Republika co.id)

 

0leh : MUHBIB ABDUL WAHAB, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button